Bagaimana tidak, aku yang kala itu harusnya sudah tidur karena memang sudah larut, tiba-tiba membuka aplikasi pencari pekerjaan dan masuk ke bagian "application history". Kagetnya aku ketika melihat ada undangan untuk mengikuti tes tertulis dan interview yang ternyata sudah dikirim oleh HRD sejak seminggu yang lalu, tapi baru sempat kubuka malam itu. Tapi Puji Tuhan, dari ribuan lamaran yang sudah kukirim, ada satu yang memberikan kesempatan kepadaku untuk mengikuti tes masuk. Tapi, masalahnya adalah tes itu diadakan BESOK (jumat) dan secara offline. Artinya, aku harus mengambil resiko untuk berangkat ke ibukota "hanya" untuk mengikuti tes tersebut. Aku pun berdoa. Kalau Tuhan melancarkan semuanya, aku akan berangkat. Akhirnya, keesokan harinya aku berusaha keras menghubungi HRD untuk meminta re-schedule tanggal tesku karena tidak mungkin aku berangkat hari itu juga dari Manado ke Jakarta. Tesnya jam 10. Tidak akan ada waktu yang cukup bagiku untuk belajar atau bahkan untuk beristirahat. Dan, setelah usaha yang tak sedikit, aku akhirnya tersambung dengan HRD tersebut melalui telepon kantor mereka. Ia pun memberi kesempatan kedua untukku mengikuti tes pada hari senin (3 hari dari sekarang). Ketika kurasa Tuhan melancarkan semuanya, aku pun langsung minta izin ke keluarga untuk berangkat ke Jakarta dan diizinkan. Puji Tuhan aku memiliki keluarga yang selalu mendukung keputusanku, bahkan seberapa tidak masuk akalnya itu.
Akhirnya, aku tiba di Jakarta hari minggu siang. Dan dengan penyertaan Tuhan aku dipertemukan dengan orang-orang yang tepat disini. Aku tinggal bersama kenalanku yang sudah kuanggap kakakku sendiri. Aku pun mengikuti tes hari seninnya. Aku tersenyum ketika melihat lembaran soal. Semua yang kupelajari semasa kuliah, ada disini. Aku mengerjakan soal tes dengan cukup santai. Terima kasih dosen-dosenku khususnya Sir Sibilang dan Ma'am Soewignyo. Materi yang beliau-beliau jelaskan, sangat terngiang-ngiang sehingga memudahkanku ketika mengerjakan soal tersebut.
Satu minggu kemudian, aku mendapat email kembali dari HRD. Aku lolos tes tertulis dan akan langsung diinterview oleh user (manager) keesokan paginya. Aku pun mempersiapkan diri untuk interview. Dan Puji Tuhan, interview tersebut berjalan lancar. Bahkan, menurutku, interview lebih gampang dibanding tes tertulis minggu lalu. Aku pun optimis dengan hasilnya. Seminggu kemudian, aku mengecek email. Tidak ada. Ku cek lagi. Tidak ada. Memang tidak ada. Aku pun mulai pesimis. "Aku mungkin tidak diterima," pikirku. Tapi, aku masih semangat. Aku aktif melamar sana-sini. Targetku adalah aku harus mendapatkan pekerjaan dalam 1 bulan ini. Akhirnya, aku mendapat panggilan tes di salah satu perusahaan besar. Aku mengikuti tes tersebut. Dan setelah melalui proses screening awal, hanya aku yang terpilih untuk diinterview oleh HRD yang kemudian akan dilanjutkan oleh user.
Tapi, satu minggu kembali berlalu dengan cepat dan sayangnya tidak ada kabar dari perusahaan-perusahaan yang sudah kulamar di Jakarta. Malahan, banyak perusahaan di Manado yang menelponku untuk menawarkan beberapa pekerjaan. Aku pun bimbang. Mungkin aku seharusnya di Manado saja. Aku ingat keluargaku yang sudah kubebani. Kala itu, hari kamis 19 November 2020, aku menangis sejadi-jadinya. Aku ingin pulang. Akupun mencari cara untuk mendapatkan uang tiket untukku balik ke Manado. Aku teringat masih memiliki uang di salah satu organisasi. Aku mencoba menghubungi Ketua dengan maksud untuk meminta uang tersebut. Aku mengirim pesan lewat WA padanya. Jam 15.38, aku chat "sore kak ππ»" dan TEPAT satu detik kemudian, ya satu detik kemudian, ada telepon dari nomor yang tak kukenal. Dengan suara parau karena masih menangis, kuangkat telepon. Tak kusangka, itu adalah nomor pribadi HRD dari perusahaan pertama (yang membuatku berangkat ke Jakarta).
Aku kaget setengah mati. Dengan singkat, ia memberitahuku kalau aku diterima dan akan mulai masuk hari seninnya . FYI, keesokan harinya, aku mendapat telepon dari perusahaan besar yang kulamar sebelumnya. Aku juga diterima. Tapi, aku sudah menandatangani kontrak, jadi tidak kuterima.
TERIMA KASIH TUHAN. Ketika aku sudah putus asa bahkan ingin balik ke Manado, disitulah mujizatNya bekerja. Jika Tuhan dengan cepat meloloskanku di perusahaan itu, mungkin aku akan menjadi tinggi hati karena berpikir ini semua karena usahaku. Jika Tuhan belum menjawab doaku untuk masuk di perusahaan itu, mungkin aku sudah terlanjur balik ke Manado dan mengubur rapat cita-citaku untuk bekerja di perusahaan tersebut. Tapi, waktu Tuhan sungguh SEMPURNA. Ia tahu kapan harus menjawab doaku. Tidak terlambat atau terlalu cepat bahkan satu detik. Bahkan berkatnya sungguh melimpah. Ia memberikan lebih dari apa yang kupikirkan.
Akhirnya, tanggal 23 November 2020, aku secara resmi masuk kantor.
Tak mudah memang memasuki dunia pekerjaan yang masih sangat asing lingkungannya bagiku. Menerapkan apa yang sudah kupelajari semasa kuliah adalah KEHARUSAN. Andai aku tahu demikian, pasti aku akan belajar lebih giat lagi semasa kuliah dulu. Ahhh, aku langsung teringat dosen-dosenku dulu yang dengan berkobar-kobar menjelaskan materi yang muridnya sendiri kurang yakin itu akan dipakai dipekerjaan nanti atau tidak. Setidaknya itulah yang kupikirkan dulu. Tapi hal ini 100% SALAH jika terjun di dunia pekerjaan apalagi di bidang "perauditan". Aku bahkan harus membuka kembali buku kuliah dulu seperti Accounting, Auditing, bahkan Taxation yang jarang kusentuh. Otakku yang sudah lama tak berpikir kritis, kini harus kembali kuasah.
Sungguh, satu minggu pertama kerja merupakan titik terendah dalam pekerjaanku. Aku merasa "paling bodoh" ketika melihat senior-seniorku yang sangat lihai memainkan jarinya ketika mengoperasikan Ms. Excel, yang sangat sigap "berdebat" dengan client ketika ada temuan (sesuatu yang aneh dalam laporan keuangan), yang sangat lancar ketika ditanya soal siklus akuntansi dan PSAK. Sifat "perfeksionis" yang kumiliki meronta-ronta tak terkendali. Aku sering menangis karena menganggap diriku bodoh karena ada pekerjaan yang tak kumengerti. "Aku ingin seperti mereka (seniorku)", pikirku. Tapi, aku lupa satu hal yang paling penting yaitu PROSES. Ya, proses. Mereka telah melewati proses yang sangat panjang untuk bisa menyandang status "Senior Auditor". Bukan cuma menghabiskan dua sampai tiga tahun, mereka juga telah mengikuti banyak training dan menghadapi banyak client. Proses ketika mereka "ditempa" itulah yang menjadikan seniorku hebat seperti sekarang. Dan aku, yang masih satu minggu bekerja sudah bersungut karena aku tidak seperti mereka? Sungguh keterlaluan kamu Gloria. Disitulah aku sadar. Proses adalah segalanya. Aku menjadi semangat. Aku menerima diriku sekarang yang tidak semahir seniorku, tapi yang terpenting adalah aku sangat ingin BELAJAR. Aku banyak bertanya. Rasa ingin mengembangkan diriku menjadi seseorang yang lebih baik. Dan, seiringnya waktu, aku akhirnya terbiasa dengan pekerjaanku. Semuanya terasa mudah dan menyenangkan, tidak seperti waktu seminggu pertama kubekerja. Bahkan, aku dipercayakan beberapa client tambahan karena pekerjaanku yang selesai lebih cepat dibandingkan teman-temanku yang lain.
Terima kasih Tuhan. PenyertaanMu sungguh luar biasa padaku. Terima kasih telah membawaku ke tempat yang tepat, mempersiapkan semuanya dengan waktu yang tepat, memberiku pekerjaan yang tepat, bahkan mempertemukanku dengan orang-orang yang tepat.
Terima kasih keluargaku. Terima kasih karena selalu mendukungku, selalu ada disaat aku susah, tidak pernah menyalahkanku atas keputusan yang kubuat, selalu percaya bahkan menyayangiku dengan semua keterbatasan yang kumiliki.
Terima kasih Rahel dan Om Ronny, Tnt Elke, Vael, Niel yang dengan senang hati sudah membukakan pintu bagiku untuk tinggal. Terima kasih juga untuk Kak Exel, Kak Sindy, Bapak dan Ibu, Syren dan Vherner yang sudah menerimaku. Aku masih belum bisa membalas kebaikan kalian sekarang, tapi aku percaya Tuhan akan membalas kebaikan dan ketulusan hati kalian.
Terima kasih Ryan untuk semua pengorbanan, kepercayaan, dan dukungan kepadaku. Terima kasih sudah menjadi pacar bahkan sahabat yang terbaik. Semoga Tuhan memberkati hubungan kita.
Terima kasih B-Jo, sahabat-sahabatku tercinta. Dimanapun kalian berada, terima kasih karena telah selalu mendengarkan curhatku. Terima kasih karena masih menjadi sahabatku yang selalu ada hingga saat ini. Aku sungguh berdoa dan berharap kalian sukses dan kita bisa berkumpul bersama seperti sediakala.
Terima kasih kepada perusahaanku yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengembangkan diri. Bahkan kepada dosen-dosenku di Universitas Klabat yang sudah membekaliku dengan ilmu yang sungguh luar biasa.
- T E R I M A K A S I H -




God's timing is always the best for you, God will always be with you and bless you wherever you are ππ»π Never give up Glo πͺπ»
ReplyDeletePuji Tuhan...aermata malele ....Tuhan Yesus baik..teramat baikππππππππππππ
ReplyDeleteWaktu Tuhan pasti yang terbaik glouu
ReplyDeleteSelalu andalkan Tuhan neh. Aymissyuuπ€
Kau Tuhan jadi andalanku
ReplyDeleteHanya Kau Yuhan yg ku percaya
Di saat aku sudah tak mampu
Hanya Yesus Sanggup melakukannya
Aku percaya ada mujizat
Aku percaya Tuhanku ajaib
Perbuatan ajaib tlah dikerjakannya
Akunpercaya ada mujizat
Tuhan
ReplyDelete